GRESIK TODAY - Kalimat penutup pidato dan surat-menyurat khas warga NU sebelum salam penutupan. Arti harfiahnya “Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya.” Istilah ini diciptakan oleh KH Ahmad Abdul Hamid dari Kendal, Jawa Tengah. Sebelum menciptakan kalimat Wallahul muwaffiq ila aqwamit-tharieq, Kiai Ahmad telah menciptakan istilah Billahit taufiq wal-hidayah. Namun karena Billahit taufiq wal hidayah kemudian digunakan oleh hampir semua kalangan umat Islam, maka ia merasa kekhasan untuk orang NU tidak ada lagi. Baca Juga KISAH KEAJAIBAN PADA PERAYAAN MAULID NABI Untuk itu ia menciptakan istilah baru, Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq yang dirasakan cukup sulit ditirukan oleh orang non-NU. KH Ahmad Abdul Hamid adalah salah satu ulama kharismatik di Jawa Tengah. Ia merupakan pengasuh Pondok Pesantren al-Hidayah dan Imam Masjid Besar Kendal. Karena peran dan ketokohannya, masyarakat Kendal menyebutnya sebagai “Bapak Kabupaten Kendal”. Kiprah Kiai Ahmad, demikian panggilannya sehari-hari, di lingkungan NU dimulai dari tingkat daerah sampai PBNU. Beberapa posisi penting di NU yang pernah didudukinya adalah Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Kendal, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah dengan Katib KH Sahal Mahfudz, dan terakhir sebagai Mustasyar PBNU.***
Jambi– Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Majelis Nasional (MN) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) I di ACC Jambi, Sabtu (24/11), oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, diwarnai keributan. Keributan terjadi saat pembawa acara akan menutup acara pembukaan. Saat itu, pembawa acara mengucapkan salam penutup dengan ucapan
Sudah diajarkan sejak awal termasuk di lomba-lomba pidato. FT/youtube JAMBI – Ada kabar lucu di media online Sabtu 24/11/2018 sore ini. Kabarnya acara pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Rakornas Majelis Nasional MN Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam KAHMI I di ACC Jambi, Sabtu 24/11, oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, diwarnai keributan. Keributan terjadi saat pembawa acara menutup acara pembukaan. Saat itu, pembawa acara mengucapkan Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thariq, sebuah salam khas warga NU. Lebih lucu lagi, kalimat pembawa acara tersebut diprotes peserta Rakornas, karena identik dengan Ormas lain NU red.. Sementara, HMI sudah biasa mengucapkan kalimat penutup Billahi Taufiq Wal Hidayah. “Pembawa acara mengucapkan Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thariq yang digunakan organisasi lain,” sebut Firman, salah seorang peserta Rakornas seperti dikutip Saat ini pihak MC diminta mengklarifikasi kalimat salah ucap tersebut, dan meminta maaf kepada peserta Rakornas KAHMI. “Kami minta agar MC meminta maaf secara terbuka, kami yakin ini sudah disusupi,” ujar pengurus KAHMI di depan mikrophon. Billahi Taufiq Wal Hidayah Juga Punya NU Kisah salam khas ini pernah menjadi guyonan dalam acara peringatan hari lahir Harlah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII ke-46 . Sejumlah tokoh nasional, Angkatan ’66 dan ratusan kader PMII hadir dalam acara yang digelar di Hotel Acacia, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Gus Dur, dalam sambutannya, menegaskan tentang komitmen keindonesiaan dan kebangsaan dengan cara mengawal terus Indonesia dengan Islam ala Indonesia. Setelah berbicara panjang lebar, Gus Dur bermaksud menutup pidatonya dengan ucapan “wabillahi taufiq wal hidayah“, tetapi tiba-tiba Gus Dur diam sejenak. “Saya kok mau salah menyampaikan salam penutup, harusnya kan yang khas NU,” jelas cucu pendiri NU ini. “Dulu ulama-ulama NU, sepakat menggunakan wabillahi taufiq wal hidayah untuk ucapan penutup acara nahdlyiin warga NU,red wajib mengikuti. Tapi setelah musim kampanye pemilu tahun 70-an, Golkar memakai ucapan itu untuk menutup setiap pidato kampanyenya,” ungkap Gus Dur. Nah setelah itu, lanjut Gus Dur, para ulama NU sepakat menggantinya dengan yang lain. Muncul ide agar diganti dengan “wallohul Muwafiq ila aqwamith Thariq” dari seorang Kiai kharismatik asal Magelang lalu dipakailah hingga kini. “Jadi Golkar minjem “wabillahi taufiq wal hidayah” dari NU dan sampai sekarang belum dikembalikan,” kata gusdur diiringi gelak tawa hadirin. “Untuk itu saya akhiri dengan wallohul Muwafiq ila aqwamith Thariq,” begitu Gus Dur menyudahi acara. Kalimat khas itu juga menjadi penutup dalam surat-menyurat khas warga NU, sebelum salam penutupan. Arti harfiahnya “Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya.” Istilah ini diciptakan oleh KH Ahmad Abdul Hamid dari Kendal, Jawa Tengah. Sebelum menciptakan kalimat Wallahul muwaffiq ila aqwamit-tharieq, Kiai Ahmad telah menciptakan istilah Billahit taufiq wal-hidayah. Namun karena Billahit taufiq wal hidayah kemudian digunakan oleh hampir semua kalangan umat Islam, maka ia merasa kekhasan untuk orang NU tidak ada lagi. Untuk itu ia menciptakan istilah baru, Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq yang dirasakan cukup sulit ditirukan oleh orang non-NU. Jadi Billahi Taufiq Wal Hidayah itu juga karya kiai NU. KH Ahmad Abdul Hamid adalah salah satu ulama kharismatik di Jawa Tengah. Ia merupakan pengasuh Pondok Pesantren al-Hidayah dan Imam Masjid Besar Kendal. Karena peran dan ketokohannya, masyarakat Kendal menyebutnya sebagai “Bapak Kabupaten Kendal”. Kiprah Kiai Ahmad, demikian panggilannya sehari-hari, di lingkungan NU dimulai dari tingkat daerah sampai PBNU. Beberapa posisi penting di NU yang pernah didudukinya adalah Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Kendal, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah dengan Katib KH Sahal Mahfudz, dan terakhir sebagai Mustasyar PBNU. Ia juga tercatat sebagai distributor majalah Berita NO, yang terbit tahun 1930an. Dalam sebuah tulisan, Kiai Sahal Mahfudz menyebutkan bahwa Kiai Ahmad menyimpan dokumen-dokumen majalah NU seperti Buletin LINO Lailatul Ijtima’ Nadhlatoel Oelama. Kiai Ahmad termasuk sangat produktif menulis dan menerjemahkan kitab-kitab. Kitab-kitabnya umumnya ditulis dalam bahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon. Salah satu tulisannya yang cukup fenomenal adalah terjemahan Qanun Asasi Hadlratus Syech KH Hasyim Asy’ari yang ia terjemahkan atas permintaan Sekretaris Jenderal PBNU Prof KH Saifudin Zuhri. Terjemahan tersebut telah dimulai oleh KH Mahfud Sidiq, tetapi tidak selesai sehingga PBNU meminta Kiai Ahmad untuk menyelesaikannya. Terjemahan itu oleh Kiai Ahmad dinamakan Ihyau Amalil Fudlala’ Fi Tarjamati Muqaddimatil Qanunil Asasi li-Jam’iyati Nahdlatil Ulama. KH Ahmad Abdul Hamid wafat pada 14 Februari 1998 bertepatan dengan 16 Syawal 1418 H. Sumber nuo, ensiklopedi NU O'k welll.. Setelah saya ikut PMII, entah mengapa rasanya pengen ngepost hal yang satu ini. Kelihatannya sepele bukan? tapi yang namanya sejarah siapa yang tau. oleh PMII Rayon Ad-Dakhil FAI UNISDA Lamongan artikel/tulisan yang ada di bawah ini adalah berita harlah PMII yang ke-46, yang saya ambil di website NU Online. "Saat acara peringatan hari lahir Harlah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII ke-46 . Sejumlah tokoh nasional, Angkatan ’66 dan ratusan kader PMII hadir dalam acara yang digelar di Hotel Acacia, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis 20/4. Dalam sambutannya, Gus Dur menegaskan tentang komitmen keindonesiaan & kebangsaan dengan cara mengawal terus Indonesia dengan Islam ala Indonesia. Setelah berbicara panjang lebar, dia bermaksud menutup pidato dengan ucapan "wabillahi taufiq wal hidayah", tapi tiba-tiba dia diam sejenak.... "saya kok mau salah menyampaikan salam penutup, harusnya kan yang khas NU" jelas cucu pendiri NU ini. "dulu ulama-ulama NU, sepakat menggunakan wabillahi taufiq wal hidayah untuk ucapan penutup dan Nahdliyiin wajib mengikuti. tapi setelah musim kampanye pemilu tahun 70-an, Golkar memakai ucapan itu untuk menutup setiap pidato kampanyenya." ungkap Ketua Dewan Syuro PKB ini Nah setelah itu, lanjut Gus Dur, para ulama NU sepakat menggantinya dengan yang lain. muncul ide agar di ganti dengan "Wallahul Muwafiq ila aqwamith Thariq" dari seorang Kiai kharismatik asal Magelang lalu dipakailah hingga kini. "jadi Golkar minjem "wabillahi taufiq wal hidayah" dari NU dan belum dikembalikan hingga saat ini," kata Gus Dur yang diiringi gelak tawa hadirin, termasuk Slamet Effendi Yusuf yang hadir saat itu. "untuk itu saya akhiri dengan wallahul Muwafiq ila aqwamith Thariq," ungkap Gus Dur menyudahi. NU Online. Mungkin kalian menganggap ini konyol, tapi menurut saya tulisan diatas "sesuatu banget". Ok, dan 1 lagi.. tidak tahu ini keawaman, ketidak tahuan, keteledoran entah kesengajaan sering kita mendengar ucapan "illa awamith Thariq" BUKAN "ila". kita mungkin masih awam, tapi kita tak harus terjerumus terlalu dalam oleh keawaman kita bukan? Memang itu suatu hal sepele, tapi ingat Se-Sepele apapun itu hati-hati lho, ntar kalo jadi Sepuluh. Kalo dari segi pandang arti kata ila = ke / menuju illa = kecuali sedang, kalo kita terus-terusan mengucap ataupun menulis "illa awamith Thariq" itu sama hal-nya kita mengucap bahkan mungkin bisa diartikan berdo'a "Kecuali jalan yang lurus" [ Teriak dan katakan OH NOo..!!! ]. jadi arti kalimat wallahul Muwafiq ila aqwamith Thariq ialah "Semoga Allah menuntun kita ke jalan yang paling lurus [ISLAM]". and finally, Alhamdulillah.. kita tahu itu. Page 2
DisampaikanOleh : H.A. Taufan Tiro, S.T. Nomor Anggota : A-141 Bismillaahirrahmaanirrahiim, Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.
MALANG TERKINI - Di akhir ceramah, seorang da'i biasanya menutup dengan ucapan Wallahul Muwaffiq ila aqwamith thariq wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bagaimana tulisan Arab dan artinya? Tulisan Arab Wallahul Muwaffiq ila aqwamith thariq wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh yang benar adalah sebagai berikut والله الموفق إلى أقوم الطريق والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته Baca Juga Arti Asyhadu Alla Ilaha Illallah, Lengkap dengan Tulisan Arabnya Arti dari ungkapan Wallahul Muwaffiq ila aqwamith thariq wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh adalah Allah yang Maha Pemberi taufik pada jalan yang paling lurus, semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah atas kalian. Tujuan menyampaikan kata-kata tersebut di penghujung ceramah adalah sebagai ungkapan jujur dari hati bahwa meskipun da'i telah menyampaikan pesan agama tetapi yang berhak memberi hidayah adalah Allah. Jadi, da'i hanya bertugas menyampaikan ilmu Allah, sementara hidayah murni dari Allah. Sebab banyak sekali orang yang dinasehati dengan agama tetapi tetap saja tidak nurut. Hal itu menunjukkan bahwa taufik dan hidayah murni hak prerogatif Allah. Manusia hanya sekedar usaha, Allah lah yang menentukan.
Jelaskanasal-usul kalimat wallahul muwafiq Ila aqwamith Thariq ips pantun gila susah Contoh zat tunggal, antagen besi, dan belum Pernyataan yang tepat mengenai zat-zat tersebut adalah..a. ketiganya merupakan unsur alam b. ketiganya mer
Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thariq adalah sebuah kalimat yang sering diucapkan oleh umat Muslim dalam berbagai kesempatan. Kalimat ini berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah “Allah yang memberikan bimbingan kepada jalan yang benar”. Kalimat ini memiliki makna yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim, karena Allah SWT adalah sumber dari segala kebaikan dan bimbingan dalam hidup. Kalimat Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thariq mengandung makna yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Makna dari kalimat ini adalah bahwa Allah SWT adalah sumber dari segala kebaikan dan bimbingan dalam hidup. Allah SWT memberikan bimbingan kepada umat-Nya untuk menjalani kehidupan dengan baik dan benar. Dalam kehidupan sehari-hari, umat Muslim harus senantiasa mengingat dan memohon bantuan dari Allah SWT untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup. Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thariq juga mengajarkan kepada umat Muslim untuk selalu berpegang pada ajaran Islam yang benar dan mengikuti jalan yang benar. Umat Muslim harus senantiasa mengikuti ajaran Islam dengan tekun dan konsisten agar dapat menjadi manusia yang benar-benar taat kepada Allah SWT. Keutamaan Mengucapkan Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thariq Mengucapkan kalimat Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thariq memiliki keutamaan yang sangat besar dalam Islam. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa siapa saja yang mengucapkan kalimat ini sebanyak tiga kali setiap pagi dan petang, maka Allah SWT akan memberikan bimbingan-Nya kepada orang tersebut dan melindunginya dari segala bahaya dan kejahatan. Mengucapkan kalimat Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thariq juga dapat membantu umat Muslim dalam memperkuat iman dan taqwa. Dengan mengingat dan memohon bantuan dari Allah SWT, umat Muslim akan lebih mudah untuk menjalani kehidupan dengan penuh keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Kesimpulan Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thariq adalah sebuah kalimat yang memiliki makna yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Kalimat ini mengajarkan kepada umat Muslim untuk selalu berpegang pada ajaran Islam yang benar dan mengikuti jalan yang benar. Mengucapkan kalimat Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thariq juga memiliki keutamaan besar dalam Islam, karena dapat membantu umat Muslim dalam memperkuat iman dan taqwa. Oleh karena itu, sebagai umat Muslim kita harus senantiasa mengingat dan mengucapkan kalimat ini dalam kehidupan sehari-hari. Pos terkaitBahasa Daerah Sunda Sampai Berjumpa LagiBeberapa Pengertian dan Fungsi Array yang Benar Terdapat PadaPeristiwa Tertariknya Partikel Koloid oleh Medan Listrik DisebutPada Tahun 1770 Inggris Mengakui Haknya atas Benua Australia MelaluiBerikut Bukan Faktor Pendorong Pembangunan Ekonomi AdalahMengapa Kita Harus Bernegosiasi dengan Santun?
WallahulMuwaffiq ila Aqwamit Tharieq Kalimat penutup pidato dan surat-menyurat khas warga NU sebelum salam penutupan. Arti harfiahnya: “Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya.” Istilah ini diciptakan oleh KH Ahmad Abdul Hamid dari Kendal, Jawa Tengah. KH Ahmad Abdul Hamid
Telah menjadi identitas dan tradisi khas tersendiri bagi warga NU, tiap kali memberikan salam penutup dalam surat menyurat maupun ceramah dan diskusi maupun acara-acara resmi, sebelumnya diselingi dengan kalimat wallahul muwafiq ila aqwamith thoriq . Arti harfiahnya kurang lebih “Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya”. Kalimat itu selalu disebut, ditulis dan dibaca dalam tiap kegiatan formal maupun informal yang diadakan oleh warga NU. Namun tak banyak yang tahu, siapa sosok kharismatik di balik kalimat tersebut, hingga salam itu menjadi demikian melekat erat dalam keseluruhan gerak nafas dan aktivitas warga nahdliyin. Kalimat ini ternyata diciptakan oleh KH Ahmad Abdul Hamid dari Kendal, Jawa Tengah, seorang pengasuh pondok pesantren Al-Hidayah , sekaligus imam Masjid Besar Kendal. Beliau lahir di kota Kendal pada tahun 1915 M. Sebelum menciptakan kalimat wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq, Kiai Hamid telah menciptakan terlebih dahulu istilah “Billahit taufiq wal-hidayah” . Namun karena kalimat tersebut kemudian digunakan oleh hampir semua kalangan umat Islam, maka beliau merasa kekhasan untuk orang NU tidak ada lagi. Untuk itu diciptakan istilah baru, yakni wallahul muwaffiq ila aqwamit thariiq yang dirasakan cukup sulit ditirukan oleh orang non-NU sebagaimana yang pernah diceritakan Gus Dur saat acara peringatan hari lahir Harlah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII ke-46 . Saat itu sejumlah tokoh nasional, Angkatan ’66 dan ratusan kader PMII hadir dalam acara yang digelar di Hotel Acacia, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis 20/4. Dalam sambutannya, Gusdur menegaskan tentang komitmen keindonesiaan & kebangsaan dengan cara mengawal terus Indonesia dengan islam ala Indonesia. Setelah berbicara panjang lebar, dia bermaksud menutup pidato dengan ucapan “wabillahi taufiq wal hidayah“, tapi tiba-tiba dia diam sejenak…. “Saya kok mau salah menyampaikan salam penutup, harusnya kan yang khas NU” jelas cucu pendiri NU ini. “Dulu ulama-ulama NU, sepakat menggunakan wabillahi taufiq wal hidayah untuk ucapan penutup dan Nahdlyiin warga NU,red wajib mengikuti. tapi setelah musim kampanye pemilu tahun 70-an, Golkar memakai ucapan itu untuk menutup setiap pidato kampanyenya.” ungkap ketua dewan Syuro PKB ini Nah setelah itu, lanjut Gus Dur, para ulama NU sepakat menggantinya dengan yang lain. Muncul ide agar di ganti dengan “wallohul Muwafiq ila aqwamith Thariq” dari seorang Kiai KH Ahmad Abdul Hamid lalu dipakailah hingga kini. “Jadi Golkar minjem “wabillahi taufiq wal hidayah” dari NU dan belum dikembalikan hingga saat ini,” kata gusdur yang diiringi gelak tawa hadirin, termasuk Slamet Effendi Yusuf yang hadir saat itu. “Untuk itu saya akhiri dengan wallohul Muwafiq ila aqwamith Thariq,” ungkap Gus Dur menyudahi Kiprah Kiai Hamid di lingkungan NU dimulai dari tingkat daerah sampai PBNU. Beberapa posisi penting di NU yang pernah didudukinya adalah adalah Rais Syuriyah PCNU Kendal, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah dengan Katib KH. Sahal Mahfudh, dan terakhir sebagai Mustasyar PBNU. Ketokohannya tak banyak ditulis di media massa, namanya tak sering disebut dalam panggung-panggung nasional, atau didengungkan di berbagai kajian sejarah ke-NU-an kita, tapi kiprah dan produktivitasnya dalam berkarya tak bisa diremehkan begitu saja. Sejak tahun 1930-an, Kiai Achmad Abdul Hamid telah terlibat dalam penulisan dan penerbitan majalah Berita NO Nahdlatoel Oelama-red. Bahkan dalam sebuah tulisan, Sahal Mahfudz menyebut kiai Achmad Abdul Hamid sebagai sosok yang begitu rapi dalam menyimpan dokumen-dokumen penting NU, salah satu yang sangat rapi disimpannya adalah dokumen-dokumen Buletin LINO Lailatul Ijtima’ Nahdatoel Oelama. Kecintaannya terhadap dunia tulis menulis juga ditunjukkannya dengan menulis dan menerjemahkan kitab-kitab yang kebanyakan ditulis dengan bahasa Jawa dalam tulisan Arab pegon. Terbilang lebih dari 20 kitab yang telah ditulisnya, meliputi bidang akidah, sejarah Islam, syari’ah, ke-NU-an maupun tuntunan dakwah Islam. Salah satu karyanya yang cukup fenomenal adalah terjemahan Qanun Asasi Hadlratus Syeikh Hasyim Asy’ari yang diterjemahkannya atas perintah dari Sekretaris Jenderal PBNU kala itu, Saifudin Zuhri. Terjemahan tersebut telah dimulai oleh KH. Mahfudz Shiddiq tetapi tidak selesai sehingga PBNU meminta kiai Achmad untuk menyelesaikannya. Terjemahan itu oleh Kiai Achmad dinamakan Ihyau Amalil Fudlala’ Fi Tarjamati Muqaddimatil Qanunil Asasi li-Jam’iyati Nahdlatil Ulama. Kiai Achmad Abdul Hamid wafat pada 14 Februari 1998 bertepatan dengan 16 Syawal 1418 H.
Sebelummenciptakan kalimat wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq, Kiai Ahmad telah menciptakan istilah “Billahit taufiq wal-hidayah”. Namun karena kalimat tersebut kemudian digunakan oleh hampir semua kalangan umat Islam, maka beliau merasa kekhasan untuk orang NU tidak ada lagi. Untuk itu diciptakan istilah baru, yakni wallahul muwaffiq
Ini saya dapat ketika masuk PMII dan lebih mendalaminya. Kelihatannya sepele bukan? tapi yang namanya sejarah siapa yang tau. "Saat acara peringatan hari lahir Harlah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII ke-46 . Sejumlah tokoh nasional, Angkatan ’66 dan ratusan kader PMII hadir dalam acara yang digelar di Hotel Acacia, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis 20/4. Dalam sambutannya, Gus Dur menegaskan tentang komitmen keindonesiaan & kebangsaan dengan cara mengawal terus Indonesia dengan Islam ala Indonesia. Setelah berbicara panjang lebar, dia bermaksud menutup pidato dengan ucapan "wabillahi taufiq wal hidayah", tapi tiba-tiba dia diam sejenak.... "saya kok mau salah menyampaikan salam penutup, harusnya kan yang khas NU" jelas cucu pendiri NU ini. "dulu ulama-ulama NU, sepakat menggunakan wabillahi taufiq wal hidayah untuk ucapan penutup dan Nahdliyiin wajib mengikuti. tapi setelah musim kampanye pemilu tahun 70-an, Golkar memakai ucapan itu untuk menutup setiap pidato kampanyenya." ungkap Ketua Dewan Syuro PKB ini Nah setelah itu, lanjut Gus Dur, para ulama NU sepakat menggantinya dengan yang lain. muncul ide agar di ganti dengan "Wallahul Muwafiq ila aqwamith Thariq" dari seorang Kiai kharismatik asal Magelang lalu dipakailah hingga kini. "jadi Golkar minjem "wabillahi taufiq wal hidayah" dari NU dan belum dikembalikan hingga saat ini," kata Gus Dur yang diiringi gelak tawa hadirin, termasuk Slamet Effendi Yusuf yang hadir saat itu. "untuk itu saya akhiri dengan wallahul Muwafiq ila aqwamith Thariq," ungkap Gus Dur menyudahi. NU Online. Mungkin kalian menganggap ini konyol, tapi menurut saya tulisan diatas "sesuatu banget". Ok, dan 1 lagi.. tidak tahu ini keawaman, ketidak tahuan, keteledoran entah kesengajaan sering kita mendengar ucapan "illa awamith Thariq" BUKAN "ila". kita mungkin masih awam, tapi kita tak harus terjerumus terlalu dalam oleh keawaman kita bukan? Memang itu suatu hal sepele, tapi ingat Se-Sepele apapun itu harus hati-hati. Kalo dari segi pandang arti kata ila = ke / menuju illa = kecuali sedang, kalo kita terus-terusan mengucap ataupun menulis "illa awamith Thariq" itu sama hal-nya kita mengucap bahkan mungkin bisa diartikan berdo'a "Kecuali jalan yang lurus" [ Teriak dan katakan OH NOo..!!! ]. jadi arti kalimat wallahul Muwafiq ila aqwamith Thariq ialah "Semoga Allah menuntun kita ke jalan yang paling lurus [ISLAM]". and finally, Alhamdulillah.. kita tahu itu.
. ruu3j7r6dw.pages.dev/98ruu3j7r6dw.pages.dev/358ruu3j7r6dw.pages.dev/47ruu3j7r6dw.pages.dev/239ruu3j7r6dw.pages.dev/98ruu3j7r6dw.pages.dev/371ruu3j7r6dw.pages.dev/89ruu3j7r6dw.pages.dev/19
arti wallahul muwafiq ila aqwamith thariq